Korea Utara, yang sedang menghadapi sanksi internasional, berupaya mendapatkan bantuan dari sebuah LSM Hungaria untuk membangun gereja di Pyongyang sebagai cara untuk mengakali sanksi tersebut. LSM itu mengusulkan penyelenggaraan pertemuan kebangunan rohani yang melibatkan organisasi paduan suara internasional, yang kemudian memicu aparat keamanan untuk menangkap para jemaat. “Victory Orchestra,” sebuah kelompok musik pengganti, ternyata beranggotakan para anggota paduan suara bawah tanah. Saat mereka menyanyikan lagu-lagu rohani secara terbuka untuk pertama kalinya, jati diri mereka yang sebenarnya sebagai jemaat bawah tanah pun terungkap, menciptakan momen-momen yang penuh tawa, air mata, dan haru.
